Salah satu pemilik toko buku bekas, Heri Wiranata (55) menjadi slah satu pedagang yang bertahan sejak 33 tahun lalu. Siang itu, Eksplore Pandalungan coba datang ke sana.
Menapaki lorong sunyi di kawasan Blok M, pengunjung akan terbawa suasana tradisional nan jadul. Desing motor hingga tawar menawar harga, sesekali masih terdengar.
Dengan tumpukan buku bekasnya, Heri masih menumpuk semangat untuk tokonya kembali bergeliat. "Saya tetap aja (semangat) karena ini lahan penghidupan kami, ibarat sawah tetap saya teruskan. Kalau masih ada yang beli buku akan kami teruskan," ujarnya kepada Ekspolre Pandalungan pada Minggu 22 Juni.
Meski semangatnya berkobar, namun tidak banyak penjual buku bekas di kawasan tersebut mau bertahan. Sebab dari awalnya ada sekitar 13-an toko buku yang berjajar di sepanjang lorong Blok M pada 1992, kini tinggal tersisa empat yang masih aktif berjualan.
"Masih ada Pak Jono, Kustanto, Kustiya dan saya," kata kakek satu cucu tersebut.
Ingatannya masih terpatri pada masa kejayaan antara tahun 2000 hingga 2017 lalu. Setelah pandemi menyerang, bisnis yang digelutinya mulai berkurang. Pendapatan turun drastis dari 100 persen turun menjadi 50 persen.
"Perkambanganya bagus sampai saat masa Covid-19 menyerang, pembeli menurun," ungkapnya.
Pria kelahiran 1970 itu tidak tinggal diam, saat masa krisis pembeli buku menghampiri. Dirinya berusaha menyesuakan diri, dengan terlibat di penjualan online dan meng-update buku-buku yang dilapakan di toko keciknya itu.
"Mengikuti arus dari tahun ke tahun apa yang dubutuhkan masyarakat, tetap saya ikuti," tandasnya.
Sebelum memiliki toko tersendiri di lorong kecil itu, para penjual buku terlebih dahulu melapak. Buku-buku di jajakan di emperan lorong jalan.
Akhirnya pada 1992 itu, penjualan menanjak kemudian memiliki toko sendiri, dengan lahan yang menyewa pemkab. Buku yang dijual juga beragam, mulai dari kebutuhan buku SD, SMP, SMA, perkuliahan dan umum. “Untuk mahasiswa ada yang kesini tapi tidak seperti dulu,” ujarnya.
Jika buku adalah jendela ilmu, toko buku bekas di Blok M itu nadi penghidupan bagi Heri dan tiga kawan lainnya. Ia berharap, iklim literasi kembali tumbuh, sehinga berdampak pada toko kecilnya.
“Harapan kami seperti dahulu kala, (omzet) bertambah sampai ada lonjakan ramai lagi,” harapnya.
Selain itu, dirinya berharap pemerintah daerah membuat kebijakan untuk para penjual buku di daerah. Bisa dengan mengajak wisatawan berkunjung ke setiap destinasi toko buku lama yang masih eksis di Kabupaten Jember.
Oleh: M. Lukman Hakim
Editor: Mohamad Ulil Albab


Tidak ada komentar:
Posting Komentar